Serial Watchmen Hadir dengan Latar Konflik Rasial dan Mencetak Sejumlah Rekor Emmy
Sumber Foto: Tirto.id
Latar Isu

Serial Watchmen Hadir dengan Latar Konflik Rasial dan Mencetak Sejumlah Rekor Emmy

Serial Watchmen kini tayang di Mola TV. Serial ini sulit diabaikan setelah mengantongi 26 nominasi Emmy Awards 2020 dan menjadi serial adaptasi komik pertama yang meraih piala utama Emmy. Dari total 26 nominasi pada Emmy Awards ke-72, Watchmen memenangkan 11 penghargaan.

  • Limited Series Terbaik
  • Aktris Utama Terbaik untuk Limited Series (Regina King)
  • Sinematografi Terbaik untuk Limited Series
  • Naskah Terbaik untuk Limited Series
  • Aktor Pendukung Terbaik untuk Limited Series (Yahya Abdul-Mateen II)

Watchmen tayang perdana pada 20 Oktober 2019. Musim pertamanya, yang merupakan serial original HBO, terdiri dari sembilan episode. HBO mengumumkan rencana produksi serial ini pada 2015, proses penulisan naskah dimulai pada 2017, dan produksi berjalan pada 2018.

Dari novel grafis ke layar: jejak panjang Watchmen

Serial ini diproduseri oleh Damon Lindelof dan ditulis berdasarkan novel grafis terbitan DC Comics pada 1986 karya Alan Moore dengan judul yang sama. Sejumlah aktor dan aktris terlibat, di antaranya Regina King, Tom Mison, Tim Blake Nelson, Yahya Abdul-Mateen II, Jeremy Irons, dan Sara Vickers.

Sebelum versi serialnya hadir, Watchmen juga pernah diadaptasi ke film yang disutradarai Zack Snyder. Menurut Box Office Mojo, film tersebut diproduksi dengan dana USD130 juta dan meraup pendapatan USD185 juta.

Watchmen sebagai komik yang mengubah cara pandang

Komik Watchmen terbit pertama kali pada 1986 dan 1987 dalam 12 jilid, lalu diterbitkan sebagai volume tunggal pada 1987. Selain Alan Moore sebagai penulis, komik ini melibatkan Dave Gibbons sebagai komikus dan John Higgins sebagai pewarna; ketiganya merupakan kreator asal Inggris.

Watchmen kerap dipandang bukan sekadar kisah superhero. Majalah Time memasukkan Watchmen ke dalam daftar 100 novel berbahasa Inggris terbaik yang terbit sejak 1923—dan komik ini menjadi satu-satunya yang masuk daftar tersebut.

Dalam laporan Variety, Moore digambarkan menawarkan pandangan menyindir konsep superhero Amerika Serikat yang tumbuh pada 1940 hingga 1960-an. Ceritanya bergerak dari thriller misteri menjadi kisah rumit dengan elemen-elemen yang saling terkait, sekaligus meruntuhkan mitos superhero dengan menggambarkan mereka sebagai sosok yang memiliki abnormalitas kejiwaan dalam berbagai bentuk.

Komik ini juga menampilkan sejarah alternatif Amerika Serikat. Dalam dunia rekaan Moore, Richard Nixon tidak lengser akibat skandal Watergate, Vietnam menjadi negara bagian AS, dan Nixon meloloskan amandemen konstitusi yang menghapus batas masa jabatan presiden, sehingga ia tetap menjabat hingga 1980-an.

Meski superhero membuat AS memiliki “senjata pamungkas” yang membuka peluang memenangkan Perang Dingin, aktivitas pahlawan super berkostum justru dilarang dan banyak dari mereka pensiun. Cerita dimulai dari kematian Edward Blake, superhero yang dikenal sebagai The Comedian. Kematian itu memicu penyelidikan Rorschach (Walter Kovacs), pahlawan berkostum yang tetap beroperasi meski menentang larangan pemerintah. Rorschach menyimpulkan ada langkah sistematis untuk membantai para superhero, dan rangkaian kejadian berikutnya memperkuat dugaannya.

Sebelum Watchmen terbit, komik kerap dianggap kekanak-kanakan. Namun karya Moore ini disebut ikut mengangkat citra komik. Di sisi lain, Moore mengaku tidak terlalu senang dengan karyanya. Mengutip laporan BBC, ia menyatakan kecewa terhadap pengaruh Watchmen pada industri komik: ia berharap karya itu menginspirasi pendekatan bertutur yang memandang realitas sebagai jejaring kebetulan dan kesempatan, tetapi menurutnya banyak orang justru meniru karakter tertentu—misalnya Rorschach—sebagai sosok kasar dan psikopat, lalu karakter serupa muncul di banyak komik.

Versi serial: “remix” dengan konteks konflik ras di Tulsa

Dalam versi serial, Damon Lindelof menyebutnya sebagai “remix” dari komik aslinya, dengan karakter, latar, dan konflik baru. Jika komik mengambil latar New York pada 1985, serial Watchmen menempatkan konflik ras di Tulsa, Oklahoma sebagai konteks utama.

Lindelof mengambil latar tersebut dengan merujuk peristiwa nyata dalam sejarah AS, yakni pembantaian Tulsa yang terjadi pada 1 Juni 1921. Sejarah mencatat, massa penyerang kulit putih dengan dukungan pejabat lokal menembaki warga kulit hitam dan membakar rumah-rumah mereka di Distrik Greenwood, Tulsa.

Menurut Variety, Lindelof pertama kali mengetahui peristiwa ini dari laporan di majalah The Atlantic pada 2014. Ia mengaku terkejut dan heran karena sebelumnya tidak mengetahui adanya pembantaian warga kulit hitam di Tulsa, hingga kemudian bertekad mengusungnya ke layar kaca.

Serial Watchmen dibuka dengan gambaran kerusuhan Tulsa 1921: perkelahian, tembak-menembak, mayat warga kulit hitam bergelimpangan, serta pesawat yang mondar-mandir dan menjatuhkan bom ke rumah-rumah warga kulit hitam.

Tokoh utama serial ini, Angela Abar alias detektif Sister Night (Regina King), dikisahkan sebagai keturunan langsung warga kulit hitam yang selamat dari pembantaian 1921. Dalam dunia Watchmen, kompensasi seumur hidup disebut telah dibayarkan kepada para korban perbudakan dan keturunan mereka, namun kelompok supremasi kulit putih menentang kebijakan tersebut.

Cerita kemudian melompat ke tahun 2019. Para polisi di Tulsa diwajibkan menutupi identitas dengan topeng dan kostum. Mereka menghadapi kelompok militan kulit putih bernama Seventh Kavalry, yang mengobarkan perang rasial dan menyerang polisi yang berusaha menghentikan aksi mereka.

Anggota Seventh Kavalry memakai topeng ala Rorschach, protagonis dalam komik Watchmen, sebagai bentuk pemujaan terhadap aksi main hakim sendiri. Sementara kewajiban polisi mengenakan topeng berakar pada peristiwa Malam Natal 2016 yang disebut “White Night”, ketika massa Kavalry menyerang rumah 40 petugas kepolisian Tulsa. Di antara yang selamat adalah Detektif Abar dan Kepala Polisi Judd Crawford.

Setelah insiden itu, sebuah undang-undang diberlakukan untuk mewajibkan polisi menyembunyikan identitas saat bertugas, sekaligus mengizinkan penggunaan kostum ala superhero sebagai kamuflase. Dengan perbedaan yang mencolok dari versi komik, serial ini menawarkan pengalaman baru baik bagi penonton yang sudah mengenal materi aslinya maupun yang baru pertama kali mendengarnya.