TP2D Blora Disorot, Bupati Arief Rohman: Saya Butuh Tim untuk Memberi Masukan Pembangunan
BLORA — Keberadaan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) di Kabupaten Blora menjadi perbincangan di masyarakat. Sejumlah tokoh menilai tim tersebut tidak efektif dan memunculkan dugaan adanya intrik politik balas budi pasca Pilkada.
Polemik itu mencuat setelah Seno Margo, mantan politisi PKS yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Blora, menyampaikan bahwa TP2D—yang disebut juga “tim 11”—diisi oleh sejumlah figur dengan latar belakang politik dan tim sukses.
Daftar nama yang disebut memiliki latar belakang politis
Menurut pernyataan Seno Margo, terdapat lima orang yang disebut berasal dari kalangan politisi, yakni:
- Sutaat (Jetis, Kecamatan Blora) — berlatar belakang pendidik, pernah menjadi anggota DPRD Blora periode 2004–2009.
- Chadziq Isnininanto (Jetis, Kecamatan Blora) — memiliki riwayat kepengurusan di PKS dan pernah menjadi anggota DPRD Blora periode 2014–2019.
- Bambang Wijanarko (Kunduran, Blora) — wiraswasta, pernah menjadi anggota DPRD Blora periode 2004–2009.
- Bambang Anto Wibowo (Kelurahan Tambahrejo, Kecamatan Blora) — disebut sebagai Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten Blora.
- Joko Supratno (Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan) — memiliki riwayat kepengurusan partai dan pernah menjadi anggota DPRD Blora pada beberapa periode.
Enam nama lain disebut berasal dari tim sukses
Selain itu, Seno Margo juga menyebut enam orang lain yang dinilai berasal dari tim sukses Bupati Blora Arief Rohman, yakni:
- Muh. Yunus Bakhtiar R. (Sonorejo, Blora) — memiliki latar belakang aktivitas pendidikan dan organisasi, serta disebut terlibat dalam perumusan RPJMD Blora 2021–2026.
- Joko Handoyo (Perum Cepu Asri, Sambong) — berlatar belakang pendidikan dan pernah terlibat dalam program inovasi desa.
- Diyan Ribut Masriyanik (Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban) — aktif sebagai kader pembangunan di tingkat desa.
- Dalhar Muhammaddun (Dk. Ngampon, Kelurahan Beran, Blora) — memiliki latar belakang aktivitas organisasi kepemudaan dan kebudayaan.
- Eko Arifianto (Mlangsen, Kecamatan Blora) — disebut aktif dalam sejumlah jaringan dan gerakan masyarakat.
- Urip Daryanto (Perumnas Blora) — memiliki latar belakang sebagai editor dan wartawan.
Bupati Arief Rohman memberi penjelasan
Menanggapi polemik tersebut, Bupati Blora Arief Rohman menyatakan pembentukan TP2D dilakukan untuk membantu mewujudkan janji-janji dan visi misi pasangan Arief–Etik saat kampanye.
“Ide pembentukan Tim TP2D karena saya ini harus mewujudkan janji-janji atau visi misi kampanye saya. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya saya membutuhkan tim yang membantu saya untuk memberikan masukan-masukan terkait pembangunan yang ada di Blora ini,” ujar Arief Rohman.
Arief menjelaskan, TP2D bertugas memantau program-program yang berjalan, mengidentifikasi persoalan ketika ada program yang dinilai mengalami kemandekan, serta mendorong kolaborasi agar percepatan bisa dilakukan.
“Yang mana tim ini saya tugasi untuk memonitoring, menentukan program-progran yang sudah kita programkan ketika ada sesuatu kemandekan atau perlu kolaborasi agar ada percepatan,” kata Arief.
Ia mencontohkan, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kemiskinan. Menurutnya, tim ditugaskan untuk turun ke lapangan dan mencari tahu penyebab program yang berhenti, serta menghimpun masukan melalui diskusi kelompok terarah (FGD) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Tim ini bekerja untuk mengumpulkan FGD dengan OPD terkait. Ke BPS, terjun ke lapangan dan sebagainya untuk memberikan masukan, kira-kira kemiskinan Blora seperti ini,” jelasnya.
Soal sistem gaji
Dalam pernyataannya, Arief Rohman juga menyinggung penjelasan mengenai sistem gaji yang diberikan kepada tim TP2D. Namun, rincian skema tersebut tidak dijabarkan dalam keterangan yang tersedia.




