Desainer Kazna Asker Rayakan Berbuka Puasa di London Fashion Week
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Desainer Kazna Asker Rayakan Berbuka Puasa di London Fashion Week

Latar News - RRI.CO.ID, Batam - Desainer Inggris-Yaman, Kazna Asker, menghadirkan pendekatan berbeda dalam presentasi busananya dengan menghentikan acara saat matahari terbenam untuk berbuka puasa bersama para model, staf, dan tamu dalam gelaran London Fashion Week, dikutip laman The Guardian.

Pada Senin malam, Asker yang berusia 29 tahun sengaja menghentikan jalannya presentasi tepat saat waktu berbuka tiba. Para model yang ikut berpuasa, bersama peserta magang dan staf, turut berbagi momen tersebut dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Presentasi bertajuk “Jam Matahari Terbenam” ini dibangun berdasarkan ritme Ramadan. Asker menyebut momen matahari terbenam sebagai “pengalihan energi”, yang menandai berakhirnya puasa setelah seharian menahan diri dari makan dan distraksi.

Ia menegaskan bahwa keputusan memasukkan momen berbuka ke dalam agenda pekan mode bukan tanpa alasan. “Begitu saya tahu bahwa pekan mode akan berlangsung [sekarang], saya harus memasukkannya,” kata Asker. “Koleksi ini dibangun berdasarkan tema Ramadan.”

Ruang NewGen milik British Fashion Council diubah menjadi majlis atau ruang tamu Arab. Para tamu duduk di atas bantal lantai yang terinspirasi dari rumah nenek Asker di Yaman. “Cara terbaik untuk berbuka puasa bersama,” ujarnya, merujuk pada konsep kebersamaan yang dihadirkan dalam ruang tersebut.

Di tengah peragaan, suasana berubah ketika musik instrumental Arab meredup dan lampu dipadamkan. Kurma serta air dibagikan, sementara penulis Sudan-Australia, Yassmin Abdel-Magied, membacakan puisi karya Mary Oliver sebelum doa berbuka dipanjatkan.

Menu iftar mencakup hidangan Irak dari Juma Kitchen serta kurma Palestina yang dibagikan kepada seluruh tamu. Sebelum presentasi dimulai, Asker mengatakan, “Akan sangat menyenangkan merayakan bersama.”

Seorang tamu, Naailah Khalifa, juga menyampaikan pandangannya tentang pengalaman tersebut. “Senang berada di tempat seperti ini dan tidak merasa ‘terasingkan’,” katanya. “Ini membuat saya merasa optimis mengetahui bahwa karya seperti karya Asker sedang berlangsung.”

Dalam koleksinya, Asker memadukan busana dengan sentuhan budaya Yaman dan siluet futuristik, sekaligus menantang norma gender. Ia menjelaskan keputusannya menampilkan jambiya pada model perempuan sebagai simbol tertentu. “Kami memutuskan untuk mengenakan jambiya pada seorang wanita, untuk menunjukkan kekuatan perempuan Muslim,” ujarnya.

Presentasi ini sekaligus menjadi penutup perjalanan Asker dalam program NewGen. “Ini adalah akhir hari, dan akhir dari bab ini dalam hidup saya,” katanya. “Saya telah melakukan semua yang ingin saya lakukan, dan tidak menyesalinya.”